Sabtu, 19 Januari 2013

Makalah "PENGERTIAN EDITING"

Alhamdulillah, segalah puji bagi Allah,Rabb alam semesta dan manusia generasi pertama hingga manusia generasi terakhir.Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada manusia pilihannya,penutup para nabi dan Rasul-Nya, Rasulullah SAW.
Kami mengucapkan banyak terimah kasih kepada seluruh sahabat yang telah turut  berpartisipasi  dalam penyusunan Makalah ini,berjudul’’PENGERTIAN EDITING’’ sehingga makalah ini dapat terselesaikan walaupun dalam bentuk  yang sederhana.
         Semoga makalah  kami buat ini dapat bermamfaat bagi kita semua,khususnya bagi kawan-kawan mahasiswa,dan menjadi bahan diskusi untuk menambah wawasan dan  pengetahuan kita tentang perintah.dan apabila terdapat kesalahan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan kami juga mengharapkan kritik dan sarannya sifatnya membangun demi kesempurnaan penyusunan makalah berikutnya.

Polewali, 27 September 2012
     Penulis





BAB I
PENDAHULUAN
                                            
A.    Latar Belakang
    Sebagai manusia yang masih banyak kekurangan baik dalam ilmu pengetahuan hendakya kita belajar dari awal agar kedepannya akan menjadi manusia yang dapat di andalkan.salah satu dari sekian banyak ilmu pengetahuan yang di pelajari ialah pelajaran editing di mana kita di anjurkan untuk mengetahui bagaimana editing  itu dan apa hikma yang dapat di ambil.
B.    Rumusan Masalah
Yang perlu di ketahui tentang makalah yang kami buat ialah.
1.  Apakah itu editing?
2.  Jenis editing
3.  Syarat editor

C.    Tujuan Penulisan
1.    Memenuhi salah satu  tugas mata pelajaran editing
2.    Menambah pengetahuan tentang pelajaran editing.
          

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Editing
 Editing dalam bahasa Indonesia adalah serapan dari Inggris.
Editing berasal dari bahasa Latin editus yang artinya ‘menyajikan kembali’. Editing dalam bahasa Indonesia bersinonim dengan kata editing. 
Dalam bidang audio-visual, termasuk film, editing adalah usaha merapikan dan membuat sebuah tayangan film menjadi lebih berguna dan enak ditonton. Tentunya editing film ini dapat dilakukan jika bahan dasarnya berupa shot (stock shot) dan unsur pendukung seperti voice, sound effect, dan musik sudah mencukupi. Selain itu, dalam kegiatan editing seorang editor harus betul-betul mampu merekontruksi (menata ulang) potongan-potongan gambar yang diambil oleh juru kamera. Editing berasal dari bahasa Latin editus yang artinya ‘menyajikan kembali’. Editing dalam bahasa Indonesia bersinonim dengan kata editing. 
Leo Nardi berpendapat editing film adalah merencanakan dan memilih serta menyusun kembali potongan gambar yang diambil oleh juru kamera untuk disiarkan kepada masyarakat. (Nardi, 1977: 47).
Pertunjukan film di bioskop ataupun televisi di rumah-rumah apabila belum melalui proses editing bisa dipastikan hasilnya tidak maksimal, penonton cenderung merasa bosan dan jenuh. Padahal, tayangan film ataupun video begitu ekonomis. Artinya, penayangannya sangat bergantung pada aspek waktu. Waktu begitu mahal dan menentukan dalam proses penayangan film. Jika sebuah tayangan berdurasi 60 menit, itu artinya selama waktu itu pencipta film harus menjamin tidak membuat penonton bosan apalagi meninggalkan bioskop, atau kalau di televisi memindahkan saluran. Begitu berartinya sebuah hasil editing sampai ada pengamat film yang menyatakan bahwa ruh tayangan film adalah proses editing.
Selain itu, J.M. Peters menyatakan bahwa yang dimaksud dengan editing film adalah mengkombinasikan atau memisah-misahkan rangkaian film sehingga tercapai sintesis atau analisis dari bahan yang diambil (Peters, 1980: 9). Di sini, Peters mengungkapkan, dengan editing, film sintesis atau sutradara televisi dapat menghidupkan cerita, menjernihkan suatu keterangan, menyatakan ide-ide atau menimbulkan rasa haru pada penonton. Nyata sekali Peters menekankan pada aspek ‘pemberian’ suasana dan nuansa sebuah film setelah melalui proses editing.
Pada saat editing berlangsung, tentunya tugas editor tidak hanya menyambung-nyambung belaka. Karena selain unsur visualisasi, unsur pikturisasi (penceritaan lewat rangkaian gambar) juga penting. Unsur inilah yang membedakan kegiatan sambung menyambung dengan editing. Selain itu, keindahan sebuah film tidak melulu disampaikan lewat rangkaian gambar, tetapi juga tingkahan musik dan sound effect yang menjadikan sebuah film bernuansa. Di zaman film bisu, rangkaian gambar diupayakan semaksimal mungkin membangun cerita film, tetapi setelah era film bersuara, kolaborasi antara film dan musik begitu menyatu.
Sementara itu, D.W. Griffith berpendapat bahwa editing film merupakan suatu hal yang terpenting dalam film karena editing film itu merupakan suatu seni yang tinggi. Seni sendiri merupakan pondasi dari film. Menyunting film adalah menyusun gambar-gambar film untuk menimbulkan tekanan dramatik dari cerita film itu sendiri. Sutradara dan editor harus pandai dalam selection of shot, selection of action ( scene demi scene yang harus dirangkaikan) (Griffith, 1972: 20-25).
Dari penjelasan Griffith tersebut, terkandung pengertian bahwa di samping pentingnya penyusunan film, perlu adanya penyisipan-penyisipan potongan film untuk membuat film itu bercerita. Ini penting sekali diungkapkan dalam pembuatan film pada televisi karena televisi sangat singkat, tetapi bagaimana caranya supaya masyarakat tertarik untuk menyaksikan secara keseluruhan.
B.    Jenis - Jenis Editing
1)    Editing continuitas (continuity cutting)
Yaitu menyambungkan potongan yang sesuai, dimana aksi yang berkesinambungan dan mengalir dari shot yang satu ke shot yang lainnya, dimana aksi yang diperlihatkan bukan merupakan bagian dari shot sebelumnya. Suatu sekuen yang berkesinambungan atau rangkaian dari sambungan yang sesuai boleh terdiri dari berbagai angle yang berbeda, namun gambar harus memperlihatkan kesinambungan pergerakan gambar, ketika subjek berpindah posisi maupun arah harus disambung bersama. Jika suatu shot tidak sesuai atau berurutan maka akan

2)    Editing kompilasi (compilation cutting)
Film berita dan film jenis dokumenter mengenai survey, laporan, analisa dokumentasi, sejarah atau laporan perjalanan, umumnya menggunakan editing kompilasi karena sifat snapshot yang mengasyikan dari informasi visual, ini semua dihubungkan oleh narasi yang berkesinambungan. Narasi suara menggerakkan gambar dan akan sedikit maknanya jika gambar tanpa penjelasan suara. Editing kompilasi ini akan sedikit menemui masalah karena semua semua shot menggambarkan apa yang terdengar/narasi.

3)    Editing kontinuitas dan kompilasi (continuity and compilation)
Film-film cerita yang menggunakan editing kontinuitas boleh juga sesekali menggunakan editing kompilasi, seperti serangkaian long-shot introduksi, sebuah sekuen editing dengan waktu dan ruang yang diringkaskan, atau serangkaian shot yang tidak saling berkaitan untuk memberikan impresi, bukannya suatu reproduksi dari suatu peristiwa. (Joseph V. Mascelli, 1998: 149)
oleh: unguceria
  
C.    Syarat Editor
Penulis pada dasarnya ada tiga, yaitu : penulis profesional, penulis semi profesional dan penulis amatir.
Syarat menjadi penyunting naskah / editor :
1.    Menguasai Ejaan
Seseorang uang ingin menjadi penyunting naskah pada penerbitan tentu perlu menguasai kaidah ejaan bahasa Indonesia, ia harus paham penggunaan huruf kecil, huruf kapital, pemenggalan kata, dan penggunaan tanda-tanda baca (titik, koma, dll)

2.    Mengusai Tata Bahasa
Seorang penyunting naskah harus tahu mana kalimat yang baik dan benar, dan mana kalimat yang salah dan tidak benar. Menguasai bahasa Indonesia tentu tidak lain dan tidak bukan adalah menguasai tata bahasa Indonesia

3.    Bersahabat dengan Kamus
Seorang penyunting naskah perlu akrab dengan kamus, entah itu kamus satu bahasa maupun kamus dua bahasa. dalam hal ini, tentu termasuk pula istilah, leksikon, dan ensiklopedia.
4.    Memiliki Kepekaan Bahasa
Seorang penyunting naskah pun dituntut untuk memiliki kepekaan bahasa. Dia harus tahu mana kalimat yang kasar dan mana kalimat yang halus, mana kata yang perlu dihindari dan mana kata yang sebaiknya dipakai.

5.    Memiliki Pengetahuan Luas
Seorang penyunting harus memiliki pengetahuan luas, artinya ia harus banyak membaca buku, membaca majalah dan koran, dan menyerap informasi melalui media audiovisual. Jelas penyunting tidak ketinggalan informasi.
   
6.    Memiliki Ketelitian dan Kesabaran
seorang penyunting naskah dituntut untuk tetap teliti dan sabar dalam menyunting naskah.

7.    Memiliki Kepekaan terhadap SARA dan Pornografi
Seorang penyunting naskah harus peka terhadap hal-hal yang berbau suku, agama, ras, dan antargolongan.

8.    Memiliki Keluwesan
Seorang penyunting naskah sering berhubungan dengan orang lain maka dia harus dapat bersikap dan berlaku luwes (supel)


9.    Memiliki Kemampuan Menulis
seorang penyunting juga perlu memiliki kemampuan menulis, minimal mampu menyusun tulisan yang elementer.

10.    Menguasai Bidang Tertentu
Alangkah baiknya seorang penyuntung menguasai satu bidang keilmuan tertentu.

11.    Memahami Kode Etik Penyuntingan Naskah
Seorang penyunting naskah perlu menguasai dan memahami kode etik penyuntingan naskah, dengan kata lain penyuntingan naskah harus tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan dalam penyuntingan naskah.

BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Dari sini dapat di simpulkan bahwa editing  adalah menyajikan kembali,
Editing dalam bahasa Indonesia bersinonim dengan kata editing.
Begitu berartinya sebuah hasil editing sampai ada pengamat film yang menyatakan bahwa ruh tayangan film adalah proses editing.
Selain itu, J.M. Peters menyatakan bahwa yang dimaksud dengan editing film adalah mengkombinasikan atau memisah-misahkan rangkaian film sehingga tercapai sintesis atau analisis dari bahan yang diambil (Peters, 1980: 9). Di sini, Peters mengungkapkan, dengan editing, film sintesis atau sutradara televisi dapat menghidupkan cerita, menjernihkan suatu keterangan, menyatakan ide-ide atau menimbulkan rasa haru pada penonton. Nyata sekali Peters menekankan pada aspek ‘pemberian’ suasana dan nuansa sebuah film setelah melalui proses editing.

B.    SARAN

Setelah kita mempelajari Editing. banyak ilmu yang dapat di serap di dalamnya jadi kami berharap semoga apa yang didapat baik  itu dari dosen, teman –teman maupun dari orang lain dapat menjadi acuan kedepannya.

Sumber:

4 komentar:

irwan grv mengatakan...

thanks....

irwan grv mengatakan...

thanks....

erygo pangestu mengatakan...

gan minta daftar pustaka dong

k margo pangestu mengatakan...

sorry gan boleh saya lihat daftar pustakanya gan? mohon bantuannya gan.

Poskan Komentar